Minggu, 22 April 2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH      
Dalam pasar yang serba global banyak terjadi persaingan antar perusahaan dalam mengeluarkan produknya yang terkadang sulit dibedakan satu sama lain. Salah satu alternatif bagi perusahaan yang diambil adalah dengan mendiferensiasikan produknya dari para pesaing. Ada empat cara umum dalam mendiferensiasikan penawaran perusahaan. Perusahaan dapat menciptakan nilai dengan menawarkan sesuatu yang lebih baik, lebih baru, lebih cepat atau lebih murah. “Lebih baik” artinya unjuk kerja penawaran perusahaan lebih baik dari pesaingnya. “Lebih baru” artinya mengembangkan solusi yang sebelumnya tidak ada. Biasanya hal ini resikonya lebih tinggi daripada sedikit peningkatan produk, namun ada peluang untuk laba yang lebih tinggi. “Lebih cepat” artinya mengurangi waktu penyerahan atau waktu kerja yang diperlukan dalam menggunakan atau membeli suatu barang atau jasa. “Lebih murah” artinya mendapatkan barang serupa dengan lebih murah.
Ada hal-hal yang dapat menjadikan diferensiasi berhasil dan efektif dalam pasar :
-          Operasi yang cemerlang : memberi pelanggan produk atau jasa yang handal dengan harga bersaing dan mudah didapat. Misalnya : Komputer Acer, Toserba Matahari, dan Fuji Film.
-          Keakraban pelanggan : mengenal dekat pelanggan sehingga dapat menanggapi kebutuhan khusus mereka. Misalnya : Bengkel Auto 2000,dan Margarin Blue Band.
-          Keunggulan produk : memberi produk dan jasa inovatif yang meningkatkan utilitas pelanggan dan memiliki unjuk kerja lebih baik daripada pesaingnya. Misalnya : Indomie, Aqua,dan Honda.
 Perusahaan biasanya mendiferensiasi dirinya dengan memusatkan perhatian pada atribut produk, baik dalam dimensi fungsi produk (product function) maupun dimensi bentuk product (product feature), dengan maksud untuk memperoleh dan meningkatkan porsi pasar serta mematahkan pesaing (Ferdinand, A.T., 1991).
Varadarajan (1986) dalam Ferdinand, A.T, (2000: 25) dengan studinya mengenai product diversity dan kinerja perusahaan menguji perbedaan kinerja antar perusahaan yang mengembangkan strategi diversifikasi produk,  ia menemukan bahwa diferensiasi produk diakui dan diadopsi secara sungguh-sungguh oleh kebanyakan perusahaan sebagai basis strategi pemasaran untuk menghasilkan kinerja pasar yang baik ,dan atas dasar itu ia menyarankan bahwa luasnya diversitas tanpa kedalaman yang cukup mungkin tidak begitu kondusif untuk menghasilkan kinerja yang unggul. Hal ini ditunjukkan oleh banyak bukti bahwa produk-produk yang sangat terdiversifikasi dan diferensiasi umumnya menghasilkan kinerja yang lebih baik.
1.2. Perumusan Masalah
Diferensiasi produk dalam sebuah pasar yang kompetitif menghasilkan pengembangan karakteristik yang disajikan melalui perubahan model yang cepat dan variatif, sehingga pembedaan dapat mengembangkan keunggulan-keunggulan unik yang tidak dimiliki oleh pesaingnya. Permasalahan yang muncul di sini adalah :
1.       Bagaimana perusahaan mengenali sumber keunggulan kompetitif yang mungkin ada?
2.       Sejauh mana efektivitas diferensiasi produk yang dilakukan dalam memenangkan persaingan?
3.       Bagaimana ciri pembeda utama bagi perusahaan dalam mengeluarkan produknya?
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Diferensiasi produk merupakan strategi pemasaran untuk menghasilkan kinerja pasar yang baik. Maka dari itu pengembangan diferensiasi produk mempunyai tujuan diantaranya :
1.       Dengan memanfaatkan diferensiasi produk dapat menarik minat konsumen potensial.
2.       Dapat memberikan reaksi positif terhadap perusahaan pada saat melihat atau menduga bahwa pesaing akan mengembangkan strategi diferensiasi yang lain.
3.       Dengan diferensiasi produk akan memberikan keunggulan unik melalui produk, harga, promosi dan distribusi dan melalui itu pula porsi pasar dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.
1.3.2. Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diperoleh dari diferensiasi produk bagi perusahaan adalah :
1.       Dapat memenangkan persaingan dalam pasar yang serba global dengan produk-produk yang spesifik.
2.       Dapat memberikan masukan tentang kelemahan dan kelebihan suatu produk dari banyak perusahaan dengan melihat faktor-faktor pembedanya.

BAB II

TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN MODEL

2.1.   Konsep-konsep Dasar
2.1.1 Diferensiasi Sebagai Strategi Pemasaran
Theodore Levitt pernah mengatakan bahwa “anything could be differentiated”. Apa pun bisa didiferiensiasi! Karena itu Levitt tidak percaya pada komoditas. Bahkan apel dan jeruk yang ditempeli label pun sudah bisa terdiferensiasi dari yang lain. Beras dulu dianggap sama saja dan dibedakan dari kualitas satu, dua, tiga, dan sebagainya. Sekarang selain ada beras “Rojolele” yang lokal, juga sudah ‘masuk’ beras impor. Brand yang dipakai bisa macam-macam, bisa beras Jepang, beras Amerika, dan sebagainya.Sebab persoalan merek penting dimana pasar bebas memberikan pilihan pada konsumen tentang produk yang ditawarkan. Merek mempercepat dan mempermudah pilihan konsumen dengan tindakan yang cepat, memungkinkan mendapat informasi yang cepat dari ingatannya termasuk mengingat pembelian yang terdahulu. Keberhasilan sebuah merek sebagaimana yang telah didefinisikan oleh De Chernatory dan Mc. Donald (1994) adalah sebagai produk yang diidentifikasikan, pelayanan, orang atau tempat yang dapat diperbesar dimana pembeli atau pemakai merasakan nilai tambah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Strategi pemasaran seringkali dibedakan pada fokus “Push (dorong) dan Pull (tarik). Strategi dorong berfokus pada usaha pemasaran pada perantara atau eceran dengan alasan bahwa pelanggan akan memilih produk yang tersedia di tempat. Strategi tarik terfokus pada usaha promosi pada customer  dengan dasar bahwa customer akan mencari-cari merek yang menjadi “must stock” bagi seluruh penjual atau pengecer.
Sebagaiamana yang dikatakab Phil Cooper, Wakil Presiden Perusahaan Kursi Barcalounger “Kami membuat kursi untuk bersandar dan kami bangga tidak hanya dalam desain dan jahitan tetapi juga dalam tempat duduknya. Orang bisa membuat kursi yang serupa dengan Barcalounger, tetapi jarang bisa duduk seperti Barcalounger. Jika anda ingin harga, anda dapat membeli kursi yang lebih murah tetapi jika ingin sesuatu yang indah, menyenangkan dan berumur panjang itulah posisi kami”. Dan strategi tersebut diarahkan langsung kepada pembeli wanita yang senang akan penampilan dan pandangan yang bagus.
Strategi IBM untuk yang lebih baik adalah membatasi teknologi yang bertumpuk-tumpuk, membiarkan pasar mencari pemenangnya. Diferensiasi dalam satu dekade yang dibuat IBM adalah menjual PC di Amerika. IBM menciptakan standar industri pada tahun 1981 dengan mengadopsi perangkat lunak Microsoft dan Intelchip untuk IBM PC yang asli. Mesin IBM yang baru mempunyai desain industri yang manis seperti kemampuan untuk mengetahui dan membaur problem internal dengan modem, tetapi tidak radikal berbeda dari para pesaingnya. Dengan hal ini, IBM beranggapan bahwa ia telah mempunyai perbedaan dalam kualitas yang superior dan pelayanan customer.
Karena itu, Philip Kotler mengatakan bahwa diferensiasi itu bisa terlihat pada macam-macam aspek. Mungkin di produk, mungkin di cara penetapan harga. Mungkin bisa juga pada citra perusahaan. Bukan pada corporate culture. Dengan demikian, semakin terlihat bahwa diferensiasi memang berbeda dengan positioning. Kalau positioning adalah suatu persepsi yang diinginkan terjadi di benak target market yang dituju, sedang differentiation, sekali lagi, merupakan semua aspek yang harus ‘mendukung’ positioning tersebut. Semakin banyak aspek yang mendukung, semakin kuatlah  positioning yang bisa dicapai.
Dalam pandangan Montgomery (1989), pembuat keputusan mungkin akan menyerah atau menunda pilihan jika gagal dalam mencoba menemukan susunan yang dominan untuk alternatif yang dijanjikan. Kemudian jika pilihan hanya muncul setelah seseorang telah mengatur keinginan yang cukup ketika situasi keputusan menawarkan banyak alternatif yang dapat diterima dan tidak ada lagi yang dapat membuktikan bahwa itu yang terbaik, maka hal tersebut akan menciptakan perasaan kebingungan yang membuat enggan untuk bertindak.
Mungkin orang akan menekankan hal-hal yang kurang pantas pada power komunikasi pemasaran, sebab ini telah menjadi kebijakan konvensional untuk mengklaim bahwa formulasi produk lebih serupa dan hanya yang berbedalah yang berkesan. Tapi yang terpenting, produk yang mengagumkan, kreatif, brilian dalam periklanan, sales promosi, PR, pemasaran langsung,dan kemasan adalah batu fondasi terpenting dalam kualitas produk, sehingga dapat menciptakan merek yang besar dalam persaingan. Pada dasarnya perusahaan berbeda kelincahannya dalam lima segi : mengubah pasar sasaran, produk, tempat (saluran), promosi, dan harga. Kelincahan ini tergantung dari struktur industri dan posisi perusahaan dalam industri. Untuk setiap tindakan, perusahaan harus memperkirakan hasilnya. Tindakan yang menjanjikan hasil terbaik adalah keseimbangan strategis perusahaan.
2.1.2 Berbagai Cara Perusahaan Dalam Mendiferensiasikan Produk 

Variabel Diferensiasi

PRODUK

PELAYANAN
PERSONIL
CITRA
Ciri
Unjuk 
Kesesuaian

Ketahanan
Keandalan
Mudah diperbaiki
Gaya
Rancangan
Penghantaran
Kerja Instalasi
Pelatihan Pelanggan
Jasa konsultasi
Perbaikan
Lain-lain
Kompetensi
Keramahan
Kredibilitas

Dapat dipercaya
Cepat tanggap
Komunikasi


Simbol
Media
Suasana

Acara

 

Berdasarkan studi-studi yang dilakukan oleh para peneliti di bidang marketing (Ferdinand, A.T., 1991; Scherer, 1970; Sullivan, 1990; Varadarajan, 1986) dapat ditarik sebuah simpul pengertian bahwa para penjual dapat mendiferensiasikan produknya dalam empat cara. Pertama, perusahaan mendiferensiasikan produk/jasa yang ditawarkannya melalui pemerkayaan fungsi produk. Misalnya perusahaan mendiferensiasikan produk senter atau produk tape recorder dengan melengkapi senter pada tape recorder atau melengkapi pemutar kaset pada senter. Senter tidak saja berfungsi untuk memberikan penerangan, tetapi juga untuk mendengarkan musik. Kedua, perusahaan melakukan diferensiasi pada bentuk produk (product feature). Industri mainan anak-anak melakukan diferensiasi dalam bentuk produk untuk menghasilkan keanekaragaman produk yang “tampil beda”. Ketiga, perusahaan juga dapat mendiferensiasikan produk melalui pengembangan atribut-atribut subyektif (subyective image) untuk meluluhkanperasaanpelanggan, seperti beberapa produk kacang-kacangan yang diferensiasi justru dibangun oleh program promosi untuk mengembangkan “subjective image”nya. Dalam hal ini dapat dilakukan misalnya diferensiasi karena warna kemasan, iklan, promosi dari mulut ke mulut (word of mouth). Keempat, perusahaan-perusahaan dapat mengembangkan diferensiasinya karena kebaikan alam yaitu yang disebut keunggulan alamiah yang diberikan oleh sebuah lokasi tertentu. Diferensiasi yang dikembangkan melalui perubahan bentuk (styling change) merupakan kebijakan yang relatif sudah umum digunakan untuk membangun diferensiasi image. Ada tiga faktor yang mendorong proses persaingan dalam model atau style tersebut. Pertama, kenyataan bahwa konsumen ternyata sangat sensitif terhadap diferensiasi dalam desain. Kedua, adanya pengetahuan bahwa pesaing selalu berupaya untuk menyiapkan model-model baru, didorong lagi oleh ketidakpastian pasar sehingga mendorong perusahaan untuk selalu mengembangkan model baru, oleh karena itu upaya pengembangan diferensiasi menjadi kebijakan yang berkesinambungan. Ketiga, kesulitan untuk memprediksi respons konsumen terhadap pemunculan sebuah model baru menyebabkan  perusahaan secara berkesinambungan mengembangkan model-model diferensiatif untuk selalu dapat menjangkau konsumen.
            Hal-hal yang ditempuh perusahaan dalam merespon tempat pasar yang baru melalui peningkatan produk untuk diferensiasi  sebagai cara bersaing secara efektif sering muncul dua hal dalam prakteknya yaitu menunda deferensiasi dan pemutaran operasi. Dalam kasus IBM, menunda deferensiasi dicoba pada perakitan final dengan menyimpan produk semi jadi yang disebut vanilla box.  Vanila box dibangun untuk mengantisipasi permintaan, dan komponen tambahan akan ditambah setelah permintaan itu telah direalisasi. Keberhasilan strategi ini tergantung pad waktu merakit produk dan vanilla box yang dapat dibangun pada gilirannya tergantung pada rangkaian perakitannya.
2.1.2.2. Karakteristik Suatu Produk yang Dapat Didiferensiasi
Pemahaman tentang nilai total dari suatu produk sangat penting dalam kerangka membuat keputusan untuk memasuki atau meninggalkan suatu pasar, keputusan dalam menetapkan harga, serta memahami komponen-komponen produk yang membuat value dari suatu produk. Dalam kaitan ini Feshbein dalam lehmann dan Winner  ( 1997 ) menyebut suatu ide dimana sebuah produk adalah sejumlah karakteristik dan di setiap karakteristiknya mempunyai nilai yang secara luas diketahui oleh calon pelanggan. Dengan demikian, nilai dari setiap produk merupakan penjumlahan dari keseluruhan karakteristiknya, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut
Nilai keseluruhan = ∑ (posisi nilai dari keseluruhan karakteristik ).
            Lehman dan Winner ( 1997 ) mengungkapkan bahwa beberapa karakteristik yang termasuk dalam karakteristik suatu produk adalah :  (1) atribut fungsional,  (2) service ( pelayanan ), (3) image, dan (4) ekuitas merek. Secara rinci keempat karakterisrik tersebut akan diuraikan dalam penjelasan dibawah ini.
1.       Atribut Fungsional
Sumber nilai bagi pelanggan yang sangat jelas adalah atribut fungsional atau kegunaan suatu produk ( utilitarian ). Dasar dari atribut fungsional ini adalah performance feature sebuah produk, misalnya daya muat suatu alat angkut atau keiritan BBM untuk kendaraan bermotor. Satu hal yang sangat penting untuk diingat, persepsi benefit sangat menentukan nilai bagi seorang pelanggan. Terdapat sejumlah pendekatan dalam melakukan evaluasi terhadap atribut fungsional :
ΘOpini ahli ( expert opinion ). Dalam kategori produk yang ditetapkan
secara baik, opini ahli menjadi sangat berguna. Meskipun opini tersebut sangat berguna namun sering terjadi kesalahan karena kadang-kadang terjadi kecenderungan yang didasarkan pada spesifikasi teknis pada persepsi konsumen.
              Θ Survey data. Dalam suatu survey, sering terjadi bahwa atribut yang menghasilkan suatu value dipastikan melalaui direct rating, misalnya seberapapentingkah produk  X bagi saudara. Model rating seperti ini umumnya mempunyai dua masalah yang perlu mendapatkan perhatian : ( 1 ) sesuatu cenderung untuk diberi rating “ penting “ dan (  2 ) beberapa pertanyaan yang diajukan akan dijawab dengan jawaban yang cenderung menyenangkan. Dengan demikian, dalam survey data ini dimensi kuncinya tidak dapat dicakup oleh metode tidak langsung sebagaimana dalam multidimensional scaling. Dua sistem rating, yaitu rating secara langsung ( seberapa karakteristik X yang dimiliki produk Y ) dan positioning yang dilakukan melalui multidimensional scaling dapat digunakan dalam suatu survey data.
      ΘAnalisis pola pembelian. Ukuran penting dari suatu karakteristik adalah kekecewaan yang dirasakan oleh pelanggan  ( customer`s resistance ). Kekecewaan pelanggan tidak akan hilang dan akan terus dipandang sebagai pengalaman penting. Dengan menguji kemungkinan berpindah ( switching ) ke produk lain, sangat mungkin untuk menciptakan model geometrik, dimana diantara dua brand dipasangkan kemudian dilihat apakah terdapat kemungkinan perpindahan yang sangat substansial dan sangat dekat karena hanya terdapat dua pilihan. Dimensi identitas yang demikian diterjemahkan sebagai karakteristik keputusan kunci.
      Θ  Memantapkan posisi atribut. Pendekatan lain yang barangkali berbeda dengan pendekatan-pendekatan diatas adalah pendekatan untuk memantapkan posisi-posisi atribut.
2.       Pelayanan
Kritik terhadap pelayanan adalah kritik yang banyak disampaikan terhadap kualitas dari berbagai produk. Kritik yang disampaikan terhadap produk biasanya  menyangkut dua hal : (1) fungsional atribut, yaitu dalam level yang rendah dan tidak reliabel, (2) aspek-aspek lain dari penawaran, khususnya  pelayanan yang telah diabaikan . Secara prinsip, pelayanan/service dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu :
@         Pelayanan sebelum penjualan ( before sales service ) yang harus dilakukan dengan penyediaan informasi.
@         Pelayanan saat penjualan  yang mencakup berbagai macam pelayanan dalam pembelian seperti reliabilitas dan penyampaian yang tepat, pemasangan, percobaan, sistem pembayaran yang dapat dengan mudah dilakukan.
@         pelayanan purna jual ( after sales service ) yaitu segala bentuk pelayanan, baik yang menyangkut hal-hal yang bersifat rutin dan perbaikan darurat.
                        Ketiga kategori diatas sampai saat ini masih menjadi pokok perhatian para pemasar  dan merupakan salah satu cara untuk lebih menguatkan hubungan jangka panjang dengan pelanggan disamping kecepatan dalam merespon secara efektif terhadap problem yang dihadapi pelanggan. Dalam kerangka memenuhi ketiga kategori diatas maka upaya untuk memonitor kualitas pelayanan menjadi  aktifitas yang sangat penting.
3.       Image
       Sumber nilai yang ketiga adalah image suatu produk , termasuk di dalamnya bagaimana “ product feels “ Intinya adalah apakah perasaan seorang pelanggan sesuai dengan image yang diinginkan terhadap suatu produk. Harga adalah bagian dari image sebuah produk  dan pelanggan kemungkinan untuk menggunakan ukuran harga yang tinggi sebagai cerminan kualitas atau sebaliknya.
4.       Ekuitas Merek ( brand equity )
Ekuitas merek adalah nilai dari suatu produk bagi pelanggan termasuk di dalamnya segala sesuatu yang terdapat dibalik hal-hal yang dapat dijelaskan secara fungsional atribut-atribut pelayanannya dan termasuk image terhadap brand. Ekuitas merek sering direfleksikan dengan kesediaan pelanggan untuk membayar dengan harga premium terhadap sebuah brand. Menurut Aaker ( 1991 ), brand equity dapat diperoleh melalui beberapa sumber :
1.                   Awareness. Bentuk yang paling sederhana dari brand equity  adalah adanya perasaan tidak asing terhadap brand. Perasaan tidak asing terhadap suatu brand akan memberikan rasa percaya diri. Kemudian rasa percaya diri ini akan menyebabkan adanya perasaan bahwa resiko yang dihadapi oleh pelanggan berkurang, yang pada gilirannya, pelanggan cenderung untuk mempertimbangkan dan memilih brand yang bersangkutan. Fakta menunjukkan bahwa rata-rata pelanggan lebih menyukai brand yang telah ia kenal daripada brand yang asing baginya atau baru saja yang ia kenal. Pilihan terhadap brand yang telah diketahui oleh pelanggan akan memberikan justifikasi bagi yang bersangkutan untuk mengambil keputusan serta menjelaskan tindakan-tindakannya. Justifikasi ini akan memiliki peran sosial yaitu mengindikasikan bahwa seseorang telah membeli sesuatu yang sangat bernilai dengan cara-cara tepat.
2.                   Asosiasi atribut. Brand yang telah dikenal seringkali akan memberikan pengaruh pada kualitas ( baik atau buruk ). Kualitas dapat bersifat umum, Misalnya “ Sonny “. Sonny dapat diklasifikasikan sebagai perusahaan elektronik yaang memproduksi barang-barang yang berkualitas. Dengan pemahaman seperti ini, maka setiap produk elektronik yang dibuat oleh Sonny akan dipersepsi bagus dan berkualitas. Kualitad dapat pula ditunjukkan oleh atribut atau kategori yang spesifik sebagaimana yang terjadi pada “ Sari Ayu “. Produk-produk dari perusahaan kosmetik ini sangat terkenal sehingga produk kecantikan apapun yang diproduksi oleh Sari Ayu akan dipersepsikan berkualitas meskipun produk-produk itu baru.                
3.                   Asosiasi yang lain, khususnya brand personality dan brand image. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa kualitas berhubungan dengan asosiasi atribut produk. Bahkan bukan hanya sampai di situ, kualitas dapat menumbuhkan subyektifitas serta asosiasi emosional yang juga merupakan bagian penting dari nilai brand. Hal ini mencakup asosiasi personal, seperti yang terjadi dalam iklan sabun LUX yang menyatakan bahwa “ Sabun LUX adalah sabun kecantikan bintang-bintang film “. Bentuk asosiasi yang lain adalah asosiasi emosional yang biasanya berhubungan dengan karakteristik “ stability “.
4.                   Loyalty. Ukuran yang paling kuat dari nilai brand adalah  loyalitas terhadap produk, baik dalam bentuk pembelian ulang ataupun munculnya cerita dari mulut ke mulut atau getok tular ( word of mouth ). Kedua cerminan loyalitas tersebut sering ditunjukkan oleh pelanggan. Loyalitas terhadap produk kadang-kadang terjadi sangat situasional sebagaimana yang terjadi pada pembelian ulang yang dilakukan pelanggan karena tidak adanya alternatif. Pada saat yang lain, loyalitas merupakan refleksi dari motif efisiensi. Brand suatu produk sedemikian bagus sehingga secara otomatis pelanggan menjatuhkan pilihannya sehingga effort yang dikeluarkan minimal. Hal ini dapat pula terjadi manakala pelanggan mengandalkan “ expert “ ( misalnya dealer ) untuk membuat suatu pilihan. Dalam kasus semacam ini, loyalitas diciptakan oleh saluran distribusi. Dari beberapa ilustrasi diatas, dapat dikatakan bahwa bentuk loyalitas yang paling kuat dapat terjadi atas saran orang lain yang memiliki pengalaman.
2.1.2.3  Proposisi nilai sebagai kunci sukses dalam merebut Pelanggan
            Dalam situasi ekonomi yang serba kompleks, beberapa perusahaan di Asia dan tempat-tempat lain berusaha untuk beroperasi secara efisien, khususnya dalam mendesain produk dan service untuk produk-produk yang berkualitas dan memasang harga yang kompetitif. Globalisasi dan tekanan liberalisasi perdagangan telah memacu adanya percepatan perubahan ke arah yang lebih baik ( kelola, VII/1998 : 61 ). Secara garis besar, proposisi nilai pelanggan ( customer value proposition ) dapat ditinjau dari tiga faktor :
1.      Kepemimpinan Produk. Bentuk yang sangat kongkrit dari kepemimpinan produk adalaha state of the art dari suatu produk, yaitu keunikan produk yang menyebabkan produk-produk itu disukai dan kecepatannya dalam menembus pasar. Dengan dua karakteristik tersebut, maka produk-produk yang potensial untuk menjadi leader, sejak awal peluncuran sudah mempunyai ciri ini. Dengan keunikan dan kecepatan dalam menembus pasar maka besar kemungkinan produk ini akan menjadi “ yang pertama di pasar ”.
2.      Keunggulan dalam sistem operasi ( operasional Excellence ). Termasuk dalam kategori ini adalah biaya produksi yang rendah ( low cost product ) dengan kualitas produk yang tinggi dan pelayanan yang istimewa ( excellence service ). Dengan kedua ciri yang dimiliki dalam operasional excellence akan memberikan kemungkinan yang sangat besar untuk dipilih oleh calon konsumen. Lebih-lebih dalam masa krisis sebagaimana yang terjadi saat ini, produk dengan harga rendah, kualitas yang tinggi serta pelayanan yang sangat baik mempunyai peluang sangat besar untuk dipilih oleh calon pelanggan.
3.      Kedekatan dengan pelanggan ( customer intimacy ). Kedekatan dengan pelanggan adalah tahap lanjutan dari keunggulan pelayanan. Pelayanan yang baik, baik sebelum pembelian, saat pembelian, dan pasca pembelian akan memunculkan apa yang disebut customer intimacy. Dengan demikian, apa yang dimaksud dengan customer intimacy adalah kedekatan antara perusahaan dan pelanggan dalam jangka waktu yang tidak terhingga. Oleh karena itu, unsur yang termasuk dalam kedekatan dengan pelanggan ini adalah customisation dan hubungan jangka panjang dan penuh perhatian.
       Hopy, Jeremy dan Tony Hope dalam Ho ( Kelola, VII/1998 : 63 ) menyatakan bahwa proposisi nilai bagi pelanggan dapat diukur dengan instrument sebagai berikut :
1.       Kepemimpinan produk
-       Siklus waktu proses
-       Biaya proses
-       Ukuran kualitas
-       Proses produktivitas
-       Tingkat pemenuhan pesanan atau order
2.       Keunggulan sistem operasi :
-       Persentase penjualan dari produk baru
-       Waktu yang diperlukan untuk mengembangkan generasi produk berikutnya
-        Waktu yang diperlukan untuk mencapai break event
3.       Kedekatan dengan pelanggan :
-       Loyalitas pelanggan
-        Probabilitas pelanggan
            -   Tingkat pembelian ulang
2.1.2.4. Ada empat cara dalam mendeferensiasikan suatu produk :
1.      Konteks
Dalam  dunia bisnis, selalu ada pesaing yang selalu mengelilinginya sehingga menjadi alasan untuk terus berinovasi. Pesan pemasar harus dipahami isinya. Ini harus dimulai dengan apakah tempat dan pangsa pasar terdaftar sebagaai tempat persaingan. Konteks juga mencakup Apa yang terjadi di pasar ?, Apakah timing untuk ide anda tepat ?. Ide differensiasi dari Nordstrom dengan “ Pelayanan lebih baik “ nya bermain sempurna dalam konteks dunia departement store yang telah mereduksi orang-orangnya  sebagai cara untuk memangkas biaya. Cara ini seperti menaiki gelombang. Jika terlalu cepat atau terlalu lambat maka anda tidak dapat pergi kemana-mana.
2.       Mendeferensiasikan ide
Untuk menjadi unik adalah salah satu cara untuk diferensiasi. Sehingga seorang pemasar mencari sesuatu untuk berbeda dari pesaingnya. Rahasia untuk memahami hal tersebut adalah bahwa diferensiasi itu tidak harus selalu berhubungan denga produk. Seperti halnya kuda. Kuda dideferensiasikan dengan tipenya. Ada kuda balap, peloncat, peternak, kuda liar, dan sebagainya. Tetapi kuda balap dapat dibedakan dengan berkembangbiak, penampilan, kandang, pelatih, dan sebagainya.
Sebuah produk atau pelayanan dapat dideferensiasikan dengan ciri ( feature ), leadership, pilihan ( preference ), spesialisasinya, bagaimana pembuatannya, dan sebagainya. Menjadi kreatif, atau modern atau cool bukanlah ide deferensiasi.
3.       Kepercayaan
Untuk membangun argumen yang logis untuk diferensiasi maka harus mempunyai kepercayaan ( credential ) untuk mendukung ide deferensiasi menjadi riil dan dapat dipercaya. Jika ada diferensiasi produk, seorang pemasar harus mampu mendemonstrasikan diferensiasinya. Demonstrasi ini pada gilirannya menjadi sesuatu yang dapat dipercaya ( credential ). Jika sebuah katup adalah katup yang tahan bocor, maka seorang pemasar harus mampu memiliki perbandingan langsung dengan katup yang mudah bocor. Klaim atas diferensiasi yang tanpa bukti hanyalah omong kosong. “ wide track “ mobil Pontiac harus lebih luas daripada mobil lain. British Airways  sebagai pesawat airline dunia harus bisa terbang dengan lebih banyak penumpang. Coca Cola sebagai “ real thing “ harus memiliki cola yang inventif.
4.       Mengomunikasikan differensiasi
Seorang pemasar tidak daapat menyimpan lampu di bawah keranjang. Ia tidak dapat menyimpan diferensiasinya dalam bungkusan. Jika anda membangun diferensiasi produk, dunia tidak otomatis akan memberi jalan. Produk yang lebih baik belum tentu menang. Persepsi yang lebih baik cenderung untuk menang. Keunggulan belum tentu menang jika tidak dibantu oleh berbagai cara. Setiap aspek dari komunikasi pemasar harus mencerminkan diferensiasinya : periklanan, brosur, Web site, dan presentasi penjualannya. Dalam pemasaran, Dalam pemasaran, orang yang kaya sering menjadi lebih kaya sebab mereka memiliki sumber daya untuk merealisasikan idenya. Permasalahan yang sering dihadapinya adalah memisahkan ide yang baik dari ide yang buruk, dan menghindari penghamburan uang pada produk yang terlalu banyak dan terlalu banyak program. Sayangnya, tanpa sumber daya yang tepat seringkali ide deferensiasi tidak menghasilkan apa-apa.        II.3.  Hipotesis dan Definisi Operasional Variabel
1.       Semakin luas diferensiasi dalam feature dibangun, semakin menonjol points ofdifferentiation yang nampak dan semakin tinggi kinerja pemasaran dicapai.
2.       Perusahaan dapat mengembangkan diferensiasi melalui atribut-atribut subyektif. Semakin tinggi derajat atribut-atribut subyektif dibangun, semakin tinggi derajat antisipasi persaingan dilakukan, dan semakin tinggi kinerja pemasaran dicapai.
3.       Semakin tinggi derajat budaya organisasi yang berbasis orientasi pasar dikembangkan dalam perusahaan, semakin besar peluang sukses di pasar yang dilayani.

  B A B  III
P E N U T U P
III.1. Kesimpulan
Cara suatu perusahaan mengelola kegiatan pemasarannya dapat menjadi bentuk diferensiasi yang hebat. Dalam pilihan-pilihan mengenai pemilihan pasar dan penetapan harga yang tersedia bagi penjual,  sesungguhnya yang dirumuskan adalah bagaimana perusahaan  berbeda satu sama lain.  Sangat banyak produk konsumen yang secara generik tidak berbeda tetapi secara operasional didiferensiasikan melalui pemberian merek, kemasan, iklan, model mutakhir, bahkan harga. Oleh karena itu untuk memenangkan persaingan, perusahaan dapat menempuh cara-cara yang berbeda dari pesaingnya, diantaranya pembedaan dalam segi produk, pelayanan, personil dan citra. Adapun perusahaan dapat mendiferensiasikan produknya dengan empat cara. Pertama, perusahaan mendiferensiasikan produk yang ditawarkan melalui pemerkayaan fungsi produk. Kedua, perusahaan melakukan diferensiasi pada bentuk produk (product feature). Ketiga, perusahaan dapat mendiferensiasikan produk melalui pengembangan atribut-atribut subyektif. Dan keempat, perusahaan mendiferensiasikan produk dengan cara memanfaatkan kebaikan alam yang diberikan oleh lokasi tertentu.
III.2. Implikasi Kebijakan 
Pendekataan dalam mendiferensiasikan produk dapat mengambil bentuk-bentuk seperti desain, image merek, teknologi,bentuk atau wujud produk dan kemasan, pelayanan pelanggan atau dimensi-dimensi lainnya yang bisa menciptakan point of differentiation. Kebijakan ini  secara signifkan menentukan berhasil tidaknya perusahaan mempertahankan dan meningkatkan porsi pasar baik untuk barang-barang konsumsi maupun barang-barang industrial.


Daftar Pustaka
Dr. Agusti Ferdinand,MBA,2000. Manajemen Pemasaran : Sebuah Pendekatan Stratejik, Research Paper Series, MM. Undip.
Ravi Dhar, Product Differentiation and Endogenous Disutility International Journal of Industrial Organization (VI) Vol. 16.Iss, 1 Nov 1997. p.216.
Johnson, Bradley, IBM Tries to Show Its Different Advertizing Age (ADA), Vol. 65. Iss 44  Oktober 17, 1994.p.8
Winston Fletcher, If You Know Business You Will Use The Product Marketing (Mar) Okt. 10 1996. p.7.
Michael Chazin, Office Peripherals : Differentiate to sell Dealerscope Consumer Electronics Market Place ( DEA ) Vol. 42. Iss, 2 Feb 2000. p.31.
Chris Lewis and Angela Vickerstaff, On the Existence of A Unique Equilibrium for Models of Product Differentiation International Journal of Industrial Organization (IJI) Vol. 21. Iss, 6 Juni 2003. p.341.
Theodore Levitt dan Agus Maulana, 1987, Imajinasi Pemasaran, Penerbit Erlangga.
Hermawan Kartajaya, 2002, Marketing Plus 2000, Siasat memenangkan Persaingan Global, Gramedia, Jakarta.
Philip Kotler dan AB. Susanto, 2001, Manajemen Pemasaran di Indonesia, Salemba empat, Jilid II.


































































































REGENERASI TERORIS DARI DALAM PENJARA
Oleh: Nasiruddin MM, Direktur Utama Penerbit Haibah Press Brebes Jawa Tengah
Selama tahun 2011 ini ternyata bangsa kita tidak sepi dari teror bom yang dilakukan oleh para teroris. Diawali dari bom buku pada bulan Pebruari kemudian bom bunuh diri di Masjid Ad-Dzikra, komplek Mapolresta Cirebon pada bulan April dan yang terbaru adalah ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo pada 25 September 2011. Sejak terbunuhnya para gembong teroris seperti Dr. Azahari dan Nurdin M Top, Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir banyak orang mengira gerakan teroris akan hilang atau setidaknya berkurang. Tetapi ternyata anggapan ini meleset karena yang terjadi gerakan terorisme masih banyak terjadi, ini terbukti dengan terjadinya teror bom dalam jarak waktu yang berdekatan.
            Gerakan terorisme masih hidup dan berkembang subur di Indonesia karena regenerasi teroris terbilang cepat, ini dapat dilihat dengan masih banyaknya kalangan muda yang tertarik masuk ke dalam kelompok dan jaringan Islam garis keras seperti Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Islamiyah (JI), Negara Islam Indonesia (NII), Front Pembela Islam (FPI) dan masih banyak lagi. Mereka bergabung dengan mereka dengan dua kemungkinan direkrut langsung oleh kelompok mereka atau terinspirasi sendiri seperti yang dialami  M. Syarif dalam bom Cirebon. Inspirasi itu bahkan konon sampai terbawa dalam mimpi. Dari rekaman video yang tersimpan di ponselnya, Syarif menyatakan, "Salam kepada Noor Din M. Top yang pernah datang ke mimpi saya, mengajak saya berjihad bergabung di dalam pasukannya. Saya pernah bermimpi bertemu dengan Ustad Osama bin Laden."
            Para pengikutnya berhasil dicuci otaknya dengan doktrin pembentukan negara Islam di Indonesia. Parahnya doktrin yang ditanamkan adalah bahwa orang yang di luar kelompok mereka adalah kafir yang halal darah, harta dan kehormatannya. Mereka boleh merampok, membunuh, dan memperkosa orang di luar kelompok mereka yang penting buat kejayaan kelompoknya seperti yang dilakukan tokoh teroris Abu Tholut yang terlibat aksi perampokan di bank CIMB Niaga Medan dan membunuh aparat kepolisian di Polsek Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang dan juga pernah terlibat dalam kasus peledakan di Mal Atrium Senen Jakarta Pusat tahun 200.
            Repotnya lagi, penjara sebagai hukuman bagi tersangka teroris ternyata malah dijadikan “lahan empuk” untuk melakukan regenerasi para teroris misalnya banyak yang mengaku terpengaruh oleh dakwah Oman Abdurahman, terpidana bom Cimanggis Depok 2004 dan bergabung dengan kelompok teroris Abdullah Sonata. Ketika dipenjara sejak 2005 di Lembaga Pemasyarakat Sukamiskin, Bandung, Oman mampu merekrut sejumlah nama. Ia merekrut Gema Awal Ramadhan, mantan mahasiswa IPDN yang terlibat pembunuhan juniornya, Wahyu Hidayat. Gema ditangkap dalam penggerebekan pelatihan teroris di Aceh, Maret 2010.
Di penjara yang sama, Oman juga merekrut Yuli Harsono, mantan personel TNI yang dipecat dan dijebloskan di penjara  Sukamiskin Bandung yang dinyatakan bersalah karena menjual amunisi. Setelah keluar dari penjara, Yuli menjadi pengikut teroris dan menyerang kantor polisi yang mengakibatkan tewasnya tiga anggota polisi setempat dan akhirnya Yuli tewas dalam penggerebekan di rumah kontrakan di Cungkrungan, Blang Wetan Klaten, Juni 2010. Selepas dari penjara, lewat pengajian di pinggiran Jakarta Selatan, Oman juga berhasil merekrut mantan anggota Brimob, Sofyan Tsauri. Oman mendirikan kelompok Tauhid wal Jihad. Tim Hisbah pimpinan Sigit Qurdawi juga dinamakan Tauhid wal Jihad, merujuk pada ajaran Oman.
Bahkan menurut penelitian Institut Kebijakan Strategis Australia (Australian Strategic Policy Institute) menyebutkan bahwa para teroris membentuk pemerintahan bayangan dalam penjara. Mereka melakukan perekrutan anggota, mengirim uang dan mengkoordinir aksi teror. Mereka juga menjalankan bisnis kecil seperti menjual kartu isi ulang HP, membuka warung wakan, menjual minyak dan gula. Mereka biasa menggunakan HP untuk berkhotbah pada para pengikutnya di luar dan mendominasi mesjid penjara. Bahkan mereka dapat memanipulasi sistem penjara dan memperluas ruang geraknya.
Kasus yang paling memalukan adalah kasus yang terjadi pada Benni Irawan, sipir Lapas Kerobokan tahun 2005, dimana ia menyelundupkan laptop kepada Imam Samudra yang sedang menunggu eksekusi hukuman mati. Ternyata laptop itu digunakan Imam Samudra untuk berkomunikasi dengan kelompok teroris lainnya dan membantu merencanakan bom Bali kedua. Ternyata penjara bukan tempat efektif untuk menanggulangi terorisme bahkan menjadi semacam “kawah candradimuka” untuk menempa perilaku terorisme agar lebih matang karena dengan status narapidana teroris akan dianggap lebih hebat, loyal dan meningkat reputasi dan pengaruhnya di mata kelompok mereka karena dengan di penjara berarti dia sudah berjasa kepada kelompok dan agamanya demi mewujudkan cita-cita mereka walau nyawa menjadi taruhannya.
Selama dekade ini, pemerintah Indonesia telah menangkap kurang lebih 700 pengikut teroris dan 200 orang diantaranya telah dipenjara. Bahkan sudah ada sekitar 250 orang yang sudah keluar dari penjara tetapi tetap melanjutkan aksi-aksi teror. Contoh kecil, seorang pengikut teroris yang bernama Fajar Taslam yang dinyatakan bersalah karena membunuh seorang guru Kristen tahun 2005 dan mencoba membunuh seorang Pastor Katolik tahun 2007. Ketia diwawancarai, dia mengatakan jika bebas, dia akan mengebom kedutaan AS di Jakarta. Begitu juga yang dialami Sonhadi yang dinyatakan bersalah karena menyembunyikan Noordin M Top. Dia mengatakan bahwa mantan tahanan teroris memegang status sosial tinggi di masyarakatnya setelah menjalani hukuman di penjara. Ini membuktikan bahwa penjara dapat menjadikan para narapidana teroris lebih militan dan semakin berbahaya bukan malah sadar dan tobat ke jalan yang benar.
Untuk hukuman teroris, masa penahanan di penjara Indonesia sama dengan penahanan bagi kriminal lainnya seperti mencuri dan membunuh padahal kerusakan yang ditimbulkan tidak sebanding dengan lama masa penahanan mereka.Repotnya lagi dalam hukum Indonesia tidak tegas bahkan tidak mencantumkan hukuman tambahan apabila teroris melakukan tindak kriminal lainnya seperti mencuri sehingga tidak heran bila mereka mengulangi perbuatan terornya selepas dari penjara.
Di Indonesia sendiri Undang-undang anti terorisme masih menimbulkan multi tafsir yang mengaburkan penerapannya. Sebagian ada yang dibebaskan, divonis lebih rendah dari  seharusnya, atau dijatuhi hukuman yang tak berkaitan dengan  terorisme sehingga hukuman meraka seperti dibeda-bedakan. Di bandingkan Prancis, penegakan hukum bagi teroris di sana lebih baik dari Indonesia karena di sana ada hakim yang khusus menangani kasus terorisme yang dinilai  mampu menjatuhkan hukuman yang turut memberikan efek jera  pada pelaku terorisme. Sedangkan di Indonesia, hakim yang menangani kasus  terorisme adalah hakim umum yang belum tentu memahami  secara mendalam kasus terorisme. Yang tidak kalah penting, sudah saatnya ada pemisahan penjara teroris dengan pelanggar hukum lainnya karena bila tidak dipisah maka penjara bisa menjadi pembibitan anggota teroris yang terpengaruh ajakan dan ajaran para narapidana teroris.

Kamis, 15 Maret 2012

Guyon Gus Dur


um'at, 05 Maret 2010 12:55 wib
"Dimasukkan Kertas To Yo!"
CERITA  ini sudah lama, sewaktu Almarhum Gus Dur masih menjabat sebagai orang nomor satu di PBNU. Kantor PBNU waktu itu baru saja dilengkapi dengan mesin faksimili.

Hari itu, Arifin Junaidi (Wakil Sekjen PBNU kala itu) tengah memperagakan cara mengirim faksimili di depan Gus Dur. Di saat bersamaan mantan Presiden RI keempat ini kedatangan seorang rekannya. Mereka bertiga jadi memperhatikan mesin canggih itu.

"
Loh ngirim tulisan pakai mesin ini apa bisa diterima persis di sana?" tanya rekan Gus Dur terheran-heran.

Arifin menjawab yakin, "
Lah iya no!"

Setelah Arifin memfaksimili, tiba-tiba ada faks masuk. Mendengar bunyi dan masuknya faks itu membuat rekan Gus Dur semakin kagum saja.

"Wah mesin faks ini memang luar biasa,
nggak masuk di akal ya," komentar rekan Gus Dur itu sambil geleng-geleng kepala.

Spontan Gus Dur langsung nyeletuk, "Ya jangan dimasukkin akal dong, dimasukin kertas
to yo," jawab ringan Gus Dur menggunakan dialek Jawa.
(rhs)
Selasa, 05 Oktober 2010 10:47 wib

Nyebut Bang!

PENAMPILAN Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000, jauh berbeda dibanding saat ia hadir di tempat yang sama untuk menjawab  interpelasi DPR. Kali ini dia tampak tegang. Wajahnya agak cemberut.

Namun segala ketegangan akhirnya cair juga. Para anggota DPR malah beberapa kali dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonannya.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatera Utara yang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir bus tak tahu kalau sang kondektur terjatuh kesenggol bus lain. Sang kondektur pun jatuh tersungkur. Kepalanya langsung membentur jalan dan retak. Napasnya sudah Senin
Kemis terputus-putus.

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondetktur yang sekarat itu.

"Bang
nyebut bang, nyebut," katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kanan kondektur itu. 

Maksud orang Betawi ini, agar kondektur yang sekarat tadi menyebut kalimat Syahadat
La ilaha ilallah, sebelum meninggal. Tapi karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.

Maka sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya, sang kondektur tadi sempat menyebut, "Blo..M-Depo....Blo M-Depo..." (rhs)

Senin, 14 Juni 2010 15:31 wib

TK Abdurrahman Wahid

SETELAH Gus Dur meninggal dunia, banyak pihak yang mengusulkan agar namanya diabadikan sebagai nama antara lain pada universitas, museum, nama jalan. Hal ini sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasa mantan Presiden RI tersebut.

Misalnya Universitas Abdurrahman Wahid di Jakarta, Museum Gus Dur di Jombang, Jalan Abdurrahman Wahid di Surabya, serta Wahid Institute.

Maraknya perbincangan itu membuat pengurus LTMI PBNU Mukhlas teringat dengan humor Gus Dur waktu berkunjung ke Jombang.

Di tempat kelahirannya itu, kata Mukhlas, Gus Dur pernah bercerita bahwa nama kakeknya telah diabadikan menjadi nama universitas, yaitu Institut Keislaman Hasyim Asy'ari (IKAHA) Tebuireng.

Sementara nama ayahnya telah diabadikan menjadi nama SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng dan SMP A. Wahid Hasyim. “Nah berarti saya nanti cuma kebagian TK Abdurrahman Wahid,” ujar Gus Dur, seperti ditirukan Mukhlas. (rhs)

Gus Dur Dan Orang Mati
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

"Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." katanya.

Do You Like Salad?
Rombongan istri pejabat Indonesia  pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan  berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.

“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan

Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.

Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”

Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”

(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).

Humor NU
Bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.

"Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," jelasnya tentang jenis yang pertama.

Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, "Itu namanya orang gila NU."
 
"Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.

Humor Polisi
Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dilontarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setahun silam.

"Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur," selorohnya.

Humor Umat Beragama
Dalam sebauh Seminar di Batam. Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.

"Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan," kata Gus Dur disambut tawa peserta.

Humor Jihad
Menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan 'menjamin' tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.

"Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?" tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.

Gus Dur pun menjawab, "Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi."

Obrolan Presiden

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa...
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"

"Itu.. patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: "Wah... kok bisa tau juga?"

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
"Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

"Ini... jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem.

KAMUS BAHASA BREBES ASLI


1.      Jambangan      = Tempat air dari tanah
2.      Paso                 = Tempat air dari tembaga
3.      Pemes              = Pisau kater
4.      Tugtug             = Langit-langit yang terbuat dari plastik
5.      Piyan               = Langit-langit yang terbuat dari bambu
6.      Klendangan     = Kluyuran
7.      Klebet             = Bendera
8.      Kruwelan        = Kusut
9.      Apen-apen       = Pura-pura
10.  Idep                 = Anteng/pura-pura/inti
11.  Cules               = Males
12.  Senggana         = Seumpama
13.  Kondong         = Kamar
14.  Ajang              = Wadah
15.  Jonoh               = Awas
16.  Nyerandu        = ganggu
17.  Cengkereg/Nggara      = Rewel
18.  Cenangnangan                        = Kluyuran
19.  Nggratil           = Usil
20.  Gemerah          = Ribut
21.  Krowangan/gemboran= Berteriak
22.  Srakat/nggratak           = Usil
23.  Krekelan          = Suka memanjat
24.  Mberung/mbedud/tambang     = Susah diatur
25.  Glopot/belok= Kotor
26.  Busik   = Kusam pada kulit
27.  Cindung          = Kopyah
28.  Benting           = Stagen
29.  Kloyang-kloyong= Kluyuran
30.  Gedibal           = Tanah yang nempel pada kaki
31.  Duduh             = Kuah
32.  Belok=            Becek
33.  Selek= Cepat
34.  Dluwang= Kertas
35.  Tempolong= Tempat dari kaleng/seng ukuran kecil
36.  Blik= Tempat kaleng ukuran besar
37.  Toples= Tempat dari plastik
38.  Beling= Pecahan kaca
39.  Tlawungan= Jemuran
40.  Gantar= Tongkat bambu panjang
41.  Kupluk= peci lama
42.  Srumal= Celana
43.  Pergelet= Tempat dari kaca
44.  Camik= Cangkir
45.  Blagbag= Papan tulis
46.  Sabak= Papan tulis kecil
47.  Gombal= Baju kotor
48.  Ilir= Kipas dari bambu
49.  Krilik= Uang logam
50.  Pengilon= Cermin
51.  Germ= Biskuit
52.  Brug= Jembatan
53.  Tutus= Tali dari bambu
54.  Ketel= Teko/poci
55.  Dlebug= Tempat dari anyaman bambu
56.  Cempor= Lampu tempel dari minyak tanah
57.  Dom= Jarum jahit
58.  Lempong= Kasur
59.  Kondong= Kamar tidur
60.  Trumpah= Sandal
61.  Runtah= Sampah
62.  Jogan= Lantai
63.  Emper= Teras
64.  Cepon= Tempat nasi dari bambu
65.  Sragen= Rak piring
66.  Benting/bengkung= Ikat perut perempuan
67.  Epek= Sabuk hamil
68.  Kojong= Nasi bungkus untuk kuli
69.  Takir= Tempat lauk yang dibuat dari daun
70.  Ditum/pincuk= Dibungkus rapet
71.  Tempelang= Tempat dari daun yang menyerupai piring
72.  Blong= Tempat air besar yang terbuat dari seng
73.  Slompret= Terompet
74.  Gledegan= Roda
75.  Jungkat/garu= Sisir
76.  Asduk= Dasi
77.  Gendul= Botol
78.  Kastok= Gantungan baju
79.  Bendo/gobang= Golok
80.  Lampit= Tikar
81.  Bung= Tunas bambu
82.  Lurung= Jalan gang
83.  Slentongan= Jalan sempit
84.  Bluluk= Kelapa kecil
85.  Kasut= Kaos kaki
86.  Rusbang= Kursi panjang
87.  Amben= Ranjang
88.  Kemul= Selimut
89.  Kriul= Anting-anting
90.  Kentor= Tiang penyangga
91.  Listring= Rel kereta
92.  Gotrok= Kereta uap
93. Kricik= Uang receh